coretan jiwa

Posted: Agustus 5, 2011 in cerpen horor

“Braakk” suara pintu terbanting keras di belakang Hendra, seorang laki-laki paruh baya temperamental, yang selalu tertekan dengan pekerjaannya di sebuah Bank. Laki-laki ini selalu melampiaskan kemarahannya pada istri dan anaknya.“Kenapa lagi se mas..?” sang istri, Ningsih, seorang ibu rumah tangga yang selalu menjadi bulan-bulanan suaminya. Setiap ada masalah apapun itu selalu menjadi bahan pelampiasan suaminya.“Ah..orang-orang ini bisanya cuma menuntut dan menuntut. Mereka itu tidak bisa apa-apa kalau nggak ada aku”“Sudahlah jangan terlalu dipikir”“Kau itu tau apa heh..!!Suami pulang..nggak bikin minuman malah ngurusi anakmu yang idiot itu”“Ya ampuun mas..Putra nggak idiot..lagipula itu kan juga anak kamu”“Halah..tidak mungkin aku punya keturunan seperti dia..”                Hendra menghampiri Putra yang duduk bersimpuh di pojok ruangan, asik menggambar seakan tidak peduli dengan pertengkaran orang tuanya. “Heh..anak kecil..jangan cuma menggambar saja bisanya. Ngomong saja nggak becus..sudah umur berapa kau hah..” Putra hanya menatap kosong mata ayahnya. Tangan Hendra mencengkeram lengan Putra, tapi bocah itu sama sekali tidak menangis, merasa ketakutanpun tidak, dia hanya diam seolah tidak merasa sakit di kedua lengannya.“Mas apa-apaan se..kasihan putra..apa tidak bisa kau sekali saja tidak marah-marah dan menyiksanya seperti itu” Ningsing mencoba merebut Putra dari tangan Hendra.“Anak apa yang kau lahirkan ini..lihat berontak saja dia tidak mampu..dasar anak cacat” bentak Hendra tepat di depan mata Putra.                Ningsih berhasil merebut Putra dan menyembunyikan Putra di balik badannya. “Kau ini gila mas..Putra nggak cacat..dia hanya trauma dengan semua perlakuan kasarmu..”Ningsih menyuruh Putra menjauh dan bersembunyi di balik sofa, Putra berlari kecil menuju balik sofa, kembali duduk bersimpuh dan meneruskan gambarnya.“Kau memang keterlaluan..kalau kau bermasalah dengan urusan kantormu jangan selalu kau lampiaskan padaku dan Putra..”“Halah..Diam kau perempuan..tau apa kau soal urusan kantor”“Kau yang diam..aku sudah tak tahan lagi..ceraikan aku mas..”“Apa kau bilang..Plaak” sebuah tamparan keras mendarat di muka Ningsih“Aku mau cerai mas..aku mau cerai..”Ningsih tetap meneriakkan kata-kata itu walaupun sudah tersungkur di lantai akibat tamparan keras suaminya.“Diam kau diam…aku bilang diam..” Hendra terus memukuli Ningsih.                Ningsih berusaha mendorong tubuh Hendra yang menindih tubuhnya, Ningsih berhasil lolos dan berdiri, saat Ningsih mencoba berlari Hendra berhasil menahan tangan Ningsih dan mencengkeram kedua tangannya.“Sampai kapanpun kau tak kan bisa lari dariku Ningsih, selamanya kau tetap istriku..”“Aku tak mau mas..aku tak mau..” Ningsih berteriak-teriak dan meronta-ronta berusaha lepas dari cengkeraman Hendra.                Ningsih dan Hendra terus saling mendorong, anak mereka Putra melihat dari balik sofa tanpa ekspresi, raut mukanya datar, dia hanya terus melihat dan melihat, tanpa disadarinya dia melihat sebuah bayangan manusia menjegal kaki ayahnya. Tanpa dikomando Putra melukiskan kejadian itu di kertas putih, lengkap dengan bayangan yang menjegal kaki ayahnya, ditambah dengan adegan ayahnya terjatuh dari lantai dua dan mendarat di tanah dengan muka hancur dan tak bernyawa. Kejadian tersebut sama dengan Hendra yang tiba-tiba terjungkal dan jatuh dari lantai 5 rumah susun yang ditempatinya.“Aaaaaaaaaaahhh……” Ningsih berteriak histeris yang menyebabkan tetangga disekitarnya berkerumun. Ningsih terduduk lemas di balik jendela rumahnya, tak henti-hentinya dia menangis. Putra menghampiri jendela dengan membawa lukisan yang bergambar kejadian yang tadi menimpa ayahnya. Putra melongokkan kepalanya keluar jendela, menatap kosong jasad ayahnya, lama Putra menatapnya sampai ibunya menarik tangan Putra dan memeluknya.     2 minggu berlalu sejak Hendra meninggal, Ningsih mulai menata kembali kehidupannya. Dia mulai kembali bekerja di sebuah department store, untung saja ada saudaranya yang juga bekerja disana sehingga dia bisa mendapatkan pekerjaan yang pernah ditinggalkannya dulu dengan lebih cepat. “Putra jaga rumah ya…kunci pintu..kalau mau makan tinggal ambil di lemari makan..” Ningsih berpamitan seraya mencium kening putra. Tanpa anggukan Putra menutup pintu rumah setelah Ningsih menghilang di ujung koridor. Putra kembali ke dalam rumah duduk di belakang sofa dan kembali menggambar. Sebuah gambar yang berisikan Putra dan ibunya bergandengan tangan di sebuah hamparan hijau yang tak berbatas, dengan langit biru yang tak berawan. Di tengah gambar ada simbol “tok..tok..tok..” suara pintu membangunkan putra dari tidurnya, tak terasa putra tertidur saat kecapekan menggambar. Putra beranjak dari tidurnya dan berjalan ke depan, membukakan pintu untuk ibunya. Saat putra berdiri, angin yang entah datangnya darimana menghembuskan gambar putra masuk ke dalam kolong sofa. Putra menoleh sebentar, kemudian meneruskan berjalan menuju ruang depan dan membukakan pintu.“Eh Putra tadi tidur ya..” Wajah ibunya menyembul dari balik pintu yang dibuka Putra. Putra hanya mendongak..namun kemudian ada wajah lain dibalik punggung Ningsih.“Halo..Putra..ini martabak manis buat Putra” Seorang laki-laki paruh baya memberikan sekotak martabak manis tepat di depan mata putra, tapi Putra tak menggubrisnya, Putra mengalihkan mukanya dan kembali berjalan masuk.“Maaf pak..mungkin Putra masih ngantuk”“Oh ya..nggak pa-pa..kalo gitu saya permisi dulu” Laki-laki itu berpamitan, dan Ningsih kembali menutup pintu rumahnya.“Putra..nggak sopan itu..” Tanpa menanggapi omelan Ningsih, Putra mengambil alat gambarnya dan masuk kamar.“Braaaak…” suara pintu terbanting keras di belakang Putra. Anak kecil itu balik ke ranjang, sambil memeluk alat gambarnya Putra mulai memejamkan mata.                 Hari berikutnya, laki-laki paruh baya itu kembali mengantar pulang Ningsih.“Putra..” belum selesai laki-laki itu menyapa Putra, dia sudah berbalik dan kembali masuk ke rumah“Anak kamu itu kenapa…nggak suka sama saya?”“Oh..nggak pak..anak saya memang agak istimewa”Putra menghentikan langkahnya ketika mendengar kata itu, menoleh dan menatap datar laki-laki itu.“Ya sudah saya pamit”“Iya pak “Ningsih menutup pintu dan menghampiri Putra“Putra..ibu kan sudah pernah bilang itu tidak sopan” Putra hanya menatap mata ibunya“Putra kamu dengar apa yang ibu bilang kan”“Putra..” Ningsih menggoncang-goancang tubuh Putra“Dia atasan ibu di kantor..kalau tidak ada orang itu ibu tidak akan bisa bekerja seperti sekarang”Putra diam..“Putra jawab ibu..”“Sampai kapan kamu akan seperti ini nak..”“Putra..”Ningsih mulai mengendorkan genggaman tanggannya di lengan Putra. Anak itu mengambil alat-alat gambarnya, berjalan menuju kamar, naik ke ranjang dan memejamkan mata sambil memeluk erat alat-alat gambarnya. Ningsih tertunduk lesu melihat kelakuan anak semata wayangnya, menghela nafas di atas lantai dingin yang didudukinya. “Putra hari ini ikut ibu ke kantor ya…nanti pulangnya kita jalan-jalan”Ningsih mengajak Putra ikut  ke kantornya, Putra mengambil alat-alat gambarnya memasukkannya ke dalam tas kecilnya dan berjalan  keluar rumah bersama ibunya.“Loh Putra ikut..” Indah saudara Ningsih menyapa Putra sesampainya mereka di kantor.“Eh Putra..hari ini ikut ibu kerja ya..sekarang ikut om ya…jangan diganggu dulu ibunya” Laki-laki paruh baya yang tak lain adalah bos Ningsih di department store itu mengajak Putra menjauh dari ibunya, dia mengajaknya ke ruang kerjanya.“Putra mau jus..” seraya mengambilkannya sebotol jus dari dalam lemari es kecil di kantornya.Putra duduk diam dan mulai mengeluarkan alat gambarnya Putra sama sekali tidak mempedulikannya, dia hanya terus menggambar. Heru meletakkan jus di sofa, mundur dan duduk di meja kerjanya.“putra..”“sebenarnya om suka sama ibu putra..”“putra mau merestui kan..”Putra berhenti menggambar, dia mendongak, menatap heru dengan tatapan kosongnya itu. Lama putra menatap Heru, tangan kanan putra memegang pensil warna dengan sangat erat, menekankan ujungnya di kertas gambarnya sampai ujung pensil itu patah. Heru kaget melihat tatapan aneh putra, tanpa bisa berkata apapun, yang Heru lakukan hanya tetap menatap putra. Ketokan pintu membunyarkan semuanya, putra kembali menunduk. Heru tersadar dan membukakan pintu. Ningsih masuk dan mengajak putra keluar. Heru menatap kepergian putra dengan aneh. Ningsih menitipkan putra di tempat penitipan anak, berbicara dengan penjaganya sebentar, tersenyum pada putra dan meninggalkan putra bersama anak-anak lain di tempat itu. Heru berjalan keluar dari department store saat jam makan siang. Dia berhenti di pinggir jalan, menoleh ke kanan dan kiri mencoba mencari celah untuk menyebrang. Pandangan Heru tiba-tiba terpaku pada sosok anak di seberang jalan. Putra, diseberang jalan itu ada putra, dia melambaikan tangannya pada Heru. Tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri, heru melangkahkan kakinya ke jalanan yang penuh lalu lalang kendaraan bermotor itu. “braaaaakkkkk……”Tubuh Heru terhempas ke aspal jalanan. Sebuah mobil kijang yang berkecepatan tinggi menabrak Heru yang tiba-tiba menyebrang jalan. Tubuh itu kejang, berlumuran darah dan berhenti bernafas. Orang-orang sekitar dan beberapa karyawan yang saat itu juga antri menyebrang, berteriak dan berkerumun di seputaran tubuh heru. Beberapa karyawan yang ada di dalam department store pun ikut keluar. Putra menunduk di salah satu sudut ruangan, sibuk menggambar. Tiba-tiba salah satu anak mendekat dan melihat gambar putra. Anak itu mengernyit aneh saat melihat gambar putra, putra berhenti menggambar dan balik menatap anak itu. Lagi-lagi dengan tatapan kosongnya, anak laki-laki itu mundur sedikit, menangis, berbalik kemudian berlari ke arah ibunya.  Putra sekarang lebih sering ikut ibunya ke tempat kerjanya, hampir setiap hari. Ningsih berharap ketika putra diajak ke tempat kerjanya, putra akan lebih sering berinteraksi dengan banyak orang. Tak terkecuali dengan anak-anak kecil sebayanya di tempat penitipan anak, namun hal itu sama sekali tidak berhasil. Putra tetap menjadi penyendiri, dia lebih sering menggambar. Anak-anak di tempat penitipan itu semua menjauhi putra, tatapan mereka seakan ketakutan kalau melihat wajah putra. Putrapun tidak berinisiatif untuk mencoba mendekati dan berinteraksi dengan anak-anak itu. Putra seakan menutup diri dan menarik diri dari anak-anak sebayanya itu. Yang dilakukan putra setiap harinya hanya datang ke tempat penitipan anak, berjalan ke pojok ruangan, mengeluarkan alat-alat gambarnya, mulai menggambar, siang ibunya menjemput untuk makan siang, setelah itu kembai ke pojok ruangan dan kembali menggambar, sore ningsih menjemputnya pulang. Sama sekali tidak ada perkembangan. Ningsih melihat menatap sayu putra dari balik jendela kaca. Ningsih meratapi nasib anaknya yang menjadi penyendiri seperti itu. Dengan memegang sebuah air mineral gelasan. Ratih, teman dekat ningsih tiba-tiba menepuk pundak ningsih dari belakang. “hei…”“oh..heii” “gimana putra..?”“sampai sekarang nggak ada perubahan..aku juga bingung mesti bagaimana menghadapi putra..bagaimana dia bisa seperti anak-anak itu”“gini ja..coba kamu ke psikiater..biasanya seh..ada terapi khusus..untuk anak seperti putra..nggak ada salahnya kan mencoba..ni semua kan juga buat putra”Putra mulai terusik dengan kata-kata yang baru saja diucapkan ratih, putra berhenti menggambar dan mendongak, menatap mata ratih.“ya ampuun Putra..!!kaget aku..kenapa Putra..tiba-tiba menatapku seperti itu”Ningsih bingung menjawab pertanyaan ratih, karena Ningsih juga tidak tahu pasti kenapa Putra seperti itu. Ningsih hanya mengelengkan kepalanya, sambil melihat Ratih dan putra bergantian. Putra terus menatap Ratih tanpa berkedip, tangan mungilnya menggenggam kertas di bawahnya sampai sobek. Ningsih semakin bertambah bingung melihat Ratih yang seakan terpaku menatap Putra.“tih..kamu kenapa?”“eh..oh..nggak pa-pa…aku pulang dulu ya..ada keperluan. Tadi juga udah ijin bos kok”Ningsih mengangguk, ratih pamitan dan berjalan menjauh dari ningsih. Ningsih terus mengamati Ratih, mencoba mencari tahu yang baru saja terjadi. Seteah sosok Ratih benar-benar menghilang dari pandangan Ningsih, Ningsih berbalik mengamati Putra. Setelah Ratih pulang, Putra kembali menunduk dan meneruskan gambarnya. Lama Ningsih mengamati anaknya, mencoba mengerti apa maksud pandangan Putra tadi. Ratih berjalan pulang melewati sebuah jembatan, langkah kaki ratih pelan, ada sesuatu yang sedang dipikirkan Ratih. Tatapan mata Putra, bayangan itu terus berulang di benak Ratih. Ada yang aneh dengan tatapan Putra, tapi Ratih tak tahu itu. Ketika langkahnya tepat berada di tengah jembatan, tiba-tiba pandangan Ratih tertuju pada sosok anak yang diam di tengah sungai, Ratih berhenti, mengamati sosok anak kecil yang juga mengamatinya. Mata Ratih membelalak, anak kecil itu Putra, dan Putra hampir tenggelam. Ratih berteriak teriak histeris, orang-orang yang berjalan melewati Ratih memandanganya dengan tatapan aneh dan heran. Ratih akhirnya melompat ke dalam sungai, mencoba menggapai Putra, namun usahanya gagal, Ratih terseret ombak dan tenggelam. Orang-orang yang tadi melihatnya heran, berteriak histeris saat Ratih terjun ke sungai. Orang-orang ini menggerumuni jembatan, mencoba mencari tahu apa yang sedang dilakukan Ratih.  Putra menunduk, dengan wajah lugu dan tatapan kosongnya itu, Putra terus menggambar. Dengan asyiknya putra bermain dengan pensil gambarnya. “Putra ayo pulang..” Ningsih memanggil putraPutra menoleh melihat ibunya, tanpa mengangguk putra membereskan alat-alat gambarnya, dan memasukkannya ke dalam tas mungil yang selalu dibawanya. Tak ketinggalan, gambar terakhir yang dia buat, tentang Ratih, sama persis apa yang dialami ratih dengan gambar buatan tangan putra ini. Setelah membereskannya Putra berjalan menuju Ningsih, dan berjalan pulang dengannya. Telepon genggam ratih berbunyi, Ratih berhenti sebentar di pinggir jalan, dan menerima telepon. Ratih berbicara sebentar dengan sang penelepon.“apaa…”Ningsih berteriak histeris, penelepon tadi adalah teman Ningsih, dia memberitahu Ningsih perihal kematian Ratih beberapa jam lalu, yang tenggelam di sungai. Kematian yang menurut temannya ini terkesan janggal. Sambil terus mendengarkan penjelasan dari penelepon, Ningsih kontan melihat Putra, mengamati anak laki-lakinya itu. Putra balik melihat ibunya dengan tatapan tanpa dosa. Ningsih menutup teleponnya dan masuk ke dalam angkutan umum yang berhenti di depan ningsih. Ningsih mulai mempertimbangkan saran ratih yang terakhir didengarnya sebelum dia meninggal. Putra memang harus mendapat perawatan. Ratih menggandeng tangan mungil putra, berjalan menyusuri koridor Rumah sakit menuju ruangan psikiater.Ningsih dan putra masuk ke ruangan psikiater. Psikiater menyuruh Ningsih duduk di kursi tepat di depan mejanya, dan menyuruh Putra duduk di sofa panjang sebelahnya. Psikiater itu berbincang dengan Ningsih perihal putra. Riwayat kesehatan jiwanya, dan penyimpangan yang dialami Putra. Setelah ningsih berkonsultasi, psikiater itu menyuruh Ningsih menunggu di luar agar dia bisa berbicara berdua dengan Putra. Setelah Ningsih keluar, sang psikiater menghampiri putra dan mencoba berinteraksi dengannya.“halo putra..namaku Pak Handoko..putra mau main..”Putra diam menatap psikiater itu, tak berapa lama kemudian putra mengeluarkan alat-alat gambarnya dan mulai menggambar, tanpa mempedulikan psikiater di depannya yang terus mencoba berkomunikasi dengan putra. Dengan berbagai cara psikiater itu mencoba menarik perhatian putra, semua mainan di depan putra, coba dimainkan psikiater itu dengan terus berbicara. Nampaknya, kesabaran psikiater itu mulai habis, pelan-pelan orang tua ini mengambil kertas gambar putra. Merasa dunianya diusik, putra menoleh ke arah psikiater itu. Bapak tua ini kaget dan melepaskan tangannya dari kertas gambar putra. Putra kembali menunduk dan meneruskan gambarnya. Psikiter itu keluar menemui ningsih, pintu tempat prakteknya dibiarkan setengah terbuka. Orang tua yang selalu tampak rapi ini, menurunkan nada suaranya saat berbicara dengan ningsih.“begini bu ningsih..sebaiknya putra lebih sering dibawa kemar. Anak ibu ini harus segera diterapi mumpung masih kecil. Putra menderita keterbelakangan mental..dia kurang bisa berkosentrasi..tidak bisa berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya”Ningsih mengangguk, mencoba membuat janji konsultasi lagi. Putra berhenti menggambar, putra mendengar pernyataan psikiater itu, putra tidak terima dikatakan sebagai anak yang mempunyai keterbelakangan mental. Lagi-lagi pensil warna milik putra patah, karena putra terlalu erat menggenggamnya. Setelah beberapa lama berdiskusi di luar, ningsih dan psikiater masuk kembali ke dalam ruang praktek. Sang psikiater jongkok di depan putra dan mencoba berbicara kembali dengan putra.“putra..”Putra kontan mendongak ketika mendengar namanya dipanggil, menatap mata psikiater di depannya. Psikiater itu terlonjak kaget melihat tatapan putra, yang hanya sebuah tatapan kosong tapi, kenapa begitu menakutkan. Ningsih buru-buru merapikan alat-alat gambar putra dan berpamitan pulang pada psikiater yang masih bertampang bingung itu.Beberapa jam setelah kepulangan putra, psikiater ini mulai membereskan meja kerjanya dan bersiap pulang. Saat menoleh ke arah jendela yang terbuka, psikiater ini terbelalak kaget ketika melihat putra yang sudah duduk di jendela seolah akan terjun ke bawah. Psikiater tua itu berjalan menghampiri putra mencoba meraih tangan putra. Tapi belum sempat psikiater itu meraih tangan putra, putra sudah melompat ke bawah. Tanpa pikir panjang orang tua ini ikut melompat dari lantai 3 sebuah rumah sakit. Asisten psikiater membelalak kaget dan berteriak histeris ketika melihat atasannya melompat dari lantai 3 gedung itu. Psikiater yang mencoba mengobati putra ini, mendarat keras di sebuah mobil yang sedang parkir di depan rumah sakit, tubuhnya sempat kejang namun tiba-tiba berhenti bergerak dan jantungnya berhenti bernafas. Putra tengkurap di ranjang, matanya tertuju pada kertas kecil di depannya, dan tangan mungilnya menggores-goreskan pensil warna di kertas gambarnya. Kali ini seseorang yang lompat dari sebuah gedung dan menimpa sebuah mobil dibawahnya yang di gambar putra dari tadi. Kejadian itu sama persis lagi dengan kejadian beberapa jam lalu. Ningsih sedang menonton televisi malam itu, tiba-tiba saja ningsih dikejutkan oleh sebuah berita tentang seorang psikiater yang melompat terjun dari gedung rumah sakit, lantai 3 yaitu dari ruang prakteknya. Menurut berita, kematian psikiater ini tergolong aneh karena tidak ada motif di balik tindakannya ini. Ningsih menutup mulutnya, mencoba menahan suara terkejutnya ini, ketika tahu psikiater yang tewas itu adalah psikiater yang baru ditemuinya sore tadi. Ningsih berbelanja kebutuhan pokok seperti mie instan minyak goreng di sebuah minimarket. Tanpa sengaja Ningsih bertemu dengan Andri, sepupunya yang sudah lama tak ditemuinya.“Ningsih…!!lama nggak ketemu..kabarmu gimana?”“Ndri..baik. Kamu?”“iya aku juga baik. Eh Putra..dah gede ya sekarang..” jawab Andri sambil menatap PutraNingsih dan Andri berbincang di minimarket itu. “eh Ning..main ke rumah ya..ajak putra..atau lusa kamu ajak putra ke rumah. Biar aku jagain mumpung aku libur..nanti pulangnya aku anter..”“iya..liat ntar lusa ja ya..kalau jadi nanti Putra ta anter ke rumahmu. Kalau gitu aku pulang dulu ya..”Ningsih keluar  dari minimarket setelah membayar semua belanjaannya. Ningsih akhirnya menitipkan putra pada Andri, paling tidak ini akan mendekatkan putra dengan saudaranya, pikir Ningsih. Ketika ibunya berangkat kerja, Putra langsung duduk di sofa, mengeluarkan alat-alat gambarnya dan mulai sibuk sendiri dengan kegiatan gambarnya. Andri mencoba berinteraksi dengan Putra.“Putra mau minum..??om ambilin minum ya..”Putra sama sekali tidak menggubrisnya. Andri berjalan ke dapur dan mengambilkan putra segelas air jeruk. Andri mendekati putra, mengajaknya bermain bola. Putra tetap menunduk dan terus menggambar. Andri sampai bermain bola sendiri berharap putra akan tertarik dan mau ikut main bersamanya. Andri mencoba berbagai cara untuk membuat putra sadar bahwa di ruangan itu ada andri, bukan hanya putra dan dunia menggambarnya itu. Setelah beberapa jam mencoba akhirnya andripun menyerah dan mulai emosi menghadapi anak sepupunya itu.“eh..heh…cukup..ini sudah cukup. Kamu memang bukan anak normal..demi kamu Ningsih harus bekerja sampai larut malam begitu..cuma untuk menghidupi anak cacat. Ningsih memang terlalu bodoh waktu menikahi Hendra..ayahmu yang gila itu. Kalau saja Ningsih dulu mendengarkan keluarganya..maka dia tidak akan pernah melahirkan bayi cacat sepertimu.” Andri menuding-nuding Putra. Tangannya berhenti menggambar, mata putra beradu dengan mata andri. Lama putra menatap dingin andri, kosong, namun dalam. Dahi andri mengernyit, mulutnya menganga, mencoba mengatakan sesuatu tapi seakan tersekat. Lama mereka saling menatap sampai suara telepon mengembalikan andri kembali ke dunia nyata. Andri mundur ke belakang, kemudian berbalik menuju ruang tengah, mengangkat telepon yang sedari tadi berdering.“ha..halo..” jawab Andri dengan nafas terengah-engah Ningsih beranjak dari duduknya saat mendengar pintunya diketuk. Ningsih berjalan mendekati pintu dan membuka pintunya. Andri mengantar putra pulang malam itu. Setelah benbincang sebentar Andri pamit pulang. Andri berjalan menyusuri trotoar jalan menuju rumahnya. Tanpa sengaja andri melewati sebuah rumah yang terbakar hebat. Ada pemadam kebakaran yang berusaha memadamkan api dengan bantuan beberapa warga sekitar. Andri berhenti, kemudian melihat sebentar kebakaran di depan matanya. Tanpa sadar, pandangan andri tertuju pada jendela atas pada rumah yang terbakar itu. Andri kaget, dia melihat putra di dalam rumah yang terbakar itu, spontan andri masuk ke dalam rumah, menerobos kobaran api yang semakin membesar. Beberapa warga yang melihat hal itu berteriak-teriak. Andri tetap masuk ke dalam rumah.“putraa….” teriak AndriTanpa sadar atap-atap rumah yang mulai habis dilalap api itu runtuh dan menimpa tubuh Andri. Semua orang yang melihat hal itu berteriak histeris, beberapa warga dan pemadam kebakaran berlarian menuju andri yang tertimpa atap runtuh. Dengan sigap para warga melarikan andri ke rumah sakit terdekat. Putra duduk bersimpuh di samping tempat tidurnya, dengan beberapa pensil warna dan secarik kertas gambar, putra melukiskan seluruh kejadian yang menimpa andri. Lengkap dengan rumah yang terbakar dan kemudian ambruk menimpa andri.Telepon rumah ningsih berdering. Ningsih beranjak dari duduknya dan menjawab telepon. Istri andri yang menelponnya mengabarkan kalau andri baru saja mendapat musibah, sepulangnya dari rumah ningsih. Andri terbakar di sebuah rumah dan sekarang ada di UGD rumah sakit setempat. Tanpa pamit pada putra, ningsih keluar rumah menuju rumah sakit, tempat dimana andri mendapat pertolongan.  Ningsih mencari istri andri, mencoba bertanya perihal kejadian yang menimpa andri, dan kenapa andri bisa terjebak di rumah yang terbakar itu. Istri Andri hanya bisa menggeleng sambil menahan tangis yang tak bisa dibendungnya. Istri andri bingung memberi penjelasan pada ningsih, karena kejadian itu terlalu aneh. Istri andri hanya mengatakan apa yang diberitahukan warga sekitar yang menolong andri.“mereka cuma bilang kalau tiba-tiba mas andri menerobos api dan masuk ke dalam rumah yang terbakar..kalaupun mau menolong seseorang..siapa yang dia tolong..semua penghuni rumah itu sudah keluar. Setelah mas andri masuk..atap rumah itu runtuh dan menimpa mas andri” jelas istri Andri sambil terisakDahi ningsih mengernyit mendengar pernyataan istri andri, aneh. Sebenarnya apa yang ada di benak andri sampai nekat masuk ke dalam rumah yang hampir terbakar habis itu. Selama perjalanan menuju rumahnya, ningsih terus memikirkan kata-kata istri andri. Kata-kata itu terus berulang di pikiran ningsih. Kenapa tak kurang dari sebulan, orang-orang terdekatnya mati mengenaskan, ataupun terkena musibah seperti yang dialami andri sepupunya. Ningsih berusaha mengkait-kaitkan setiap kejadian dengan dirinya dan putra. Kenapa orang terakhir yang ditemui para korban ini, adalah ningsih dan putra. Saat tiba di rumah, ningsih mendapati putra yang sedang tertidur pulas di ranjangnya dengan memegang kertas gambar yang baru saja dilukisnya. Ningsih mendekat dan mencium kening putra, menatap lama anak tunggalnya. Tanpa sengaja ningsih melihat gambar yang dipegang tangan mungil putra, ningsih mengambil dan mengamatinya. Begitu terkejutnya ningsih saat gambar itu merupakan sebuah kejadian yang menimpa sepupunya, dan gambar itu sama dengan kejadian nyatanya. Ningsih mulai mencari-cari gambar-gambar yang dibuat putra selama ini. Ningsih membongkar-bongkar isi tas putra, walaupun tergesa-gesa tapi ningsih tetap berhati-hati dalam membongkar-bongkar barang milik putra. Di dalam tas dan kolong tempat tidur putra, ningsih menemukan bermacam-macam gambar buatan putra. Ningsih memperhatikan tiap detail dari gambar-gambar buatan putra, ningsih gemetar saat menemukan gambar-gambar kematian seperti yang dialami teman-teman dekatnya, dan semuanya sama seperti kejadian nyatanya. Ningsih menahan tangisnya dan berjalan keluar kamar putra.Ningsih masuk ke dalam kamar. Ningsih berjalan mondar-mandir sambil menahan air matanya yang terus-menerus jatuh. Ningsih bingung dengan semua keadaan aneh yang menimpanya beberapa bulan minggu terakhir. Ningsih merebahkan dirinya di atas ranjang, mencoba memejamkan matanya tapi , pikirannya terlalu penuh dengan pertanyaan “kenapa..kenapa dan kenapa?”. Keesokkan harinya, ningsih keluar kamar, dan bergegas keluar rumah tanpa mengucapkan salam atau pamit pada putra, yang melihat kepergian ibunya dari balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Putra diam melihat ibunya, yang tiba-tiba saja seakan tidak mempedulikannya.  Saat Putra asyik menggambar di balik sofa, telepon rumahnya berdering. Putra mendongak, cukup lama putra menatap telepon yang berdering itu. Akhirnya, putra beranjak dan mendekati telepon yang telah lama mengusik ketenangan putra. Putra mengangkat telepon, tanpa bersuara sedikitpun. Tanpa salam suara di seberang telepon langsung menegur putra yang dianggapnya ningsih. “Ning..kamu kemana?kenapa nggak masuk kantor”Putra langsung menutup telepon saat mendengar kata itu. Putra berdiri diam, menatap foto Ningsih dan putra yang terpajang rapi di sebelah telepon. Tak berapa lama, putra kembali ke balik sofa dan meneruskan gambarnya. Ningsih masuk ke dalam sebuah perpustakaan umum, dengan tergesa-gesa ningsih menaiki tangga menuju ke lantai dua. Mata ningsih menyapu semua rak-rak buku yang ada di lantai dua, dan akhirnya pandangan ningsih tertuju pada tumpukan koran yang berada di sudut ruangan terdepan. Langkah ningsih berjalan cukup cepat menuju tumpukkan koran itu. Ningsih mulai memilah-milah koran di hadapannya, mencari koran dengan tanggal sesuai kejadian aneh yang menewaskan beberapa teman dekatnya. Ningsih menemukan koran-koran itu, dengan gugup ningsih memeriksa setiap halaman demi halaman yang dibukanya. Ningsih menemukan berita tentang kematian bosnya, menurut beberapa saksi mata di lokasi kejadian, bosnya ini terlihat seperti memperhatikan seseorang dan hendak menghampirinya sebelum akhirnya tewas tertabrak sebuah mobil. Di koran satunya, memuat berita kematian ratih yang terseret arus sungai dan tenggelam. Saat membaca tentang kematian teman dekatnya, ada ungkapan aneh saat beberapa saksi mata mengatakan korban meneriakkan kata “putra..putra” sebelum akhirnya terjun ke sungai. Ningsih berhenti membaca, mencoba menelaah beberapa kata di koran yang sedang dibacanya sekarang. Tangan ningsih bergetar saat mulai mengerti dengan apa yang baru saja dibacanya. Ningsih menutup koran yang memuat berita tentang kematian ratih, dan mulai membaca koran yang memuat berita kematian aneh seorang psikiater. Para saksi yang melihat kejadian itu mengatakan, dia berusaha memegang seseorang sebelum akhirnya dia sendiri yang melompat dari jendela ruang prakteknya di lantai 3. Lama sekali ningsih menghabiskan waktu di perpustakaan itu, dia mencoba mencari tahu tentang kematian-kematian aneh yang beredar di sekitarnya akhir-akhir ini. Ningsih masuk ke dalam rumah, mendapati putra yang juga melihatnya masuk dari balik sofa. “Putra makan..selesai makan masuk kamar..tidur”Setelah menyuruh putra makan ningsih masuk ke kamar dan mengunci pintunya. Putra menuruti apa kata ibunya, putra berjalan ke dapur mengambil makanan, duduk di sofa, mulai menyantap makanannya. Selesai makan, putra menaruh piring kotornya di tempat cucian piring, berbalik dan menuju ke kamar. Saat melewati kamar ibunya, putra berhenti sebentar, melihat pintu kamar ibunya sejenak kemudian masuk ke kamarnya sendiri.Ningsih gelisah, matanya tetap terjaga, memandangi satu gambar kematian putra tentang kecelakaan tragis bosnya yang diambilnya dari kolong tempat tidur putra. Paginya ningsih keluar kamar dengan tergesa-gesa, ningsih kaget melihat putra menatapnya dari depan pintu kamarnya. “Putra jangan lupa makan ya..kunci pintu depan..”Dengan sedikit berlari ningsih keluar rumah. Beberapa jam setelah ningsih keluar, telepon rumah berdering. Putra melihat telepon yang berdering itu, tanpa menunggu lama seperti kemarin putra mengangkat telepon yang berdering itu. “Ning..kamu ini apa-apaan. 2 hari nggak masuk..kamu sakit..”Putra melepaskan genggamannya di gagang telepon itu, dan membiarkannya jatuh menggantung. Putra menatap sebentar foto putra bersama ibunya di sebelah telepon. Tangan mungil putra membalikkan foto itu dengan kasar, kemudian berlari menuju kamarnya. Ningsih berdiri diam, menengadahkan kepalanya, melihat jendela rumah sakit dimana psikiater tersebut loncat dari lantai 3 ruangan prakteknya.  Ningsih berhenti berjalan ketika melewati jembatan, tempat ratih tenggelam. Pandangan ningsih menyapu tiap sisi sungai yang arusnya cukup deras itu. Ningsih membayangkan bagaimana teman-teman dekatnya ini bisa terbunuh. Lama ningsih terdiam di pinggir jembatan itu. Ningsih juga berjalan melewati rumah bekas tragedi kebakaran itu. Ningsih menatap rumah bekas kebakaran itu. Mata ningsih mengamati rumah tiap jengkal rumah yang sudah tak berbentuk itu. Ningsih berjalan melewati garis polisi yang melingkari tkp. Ningsih berjalan mengitari rumah dengan terus memikirkan kejadian-kejadian aneh itu dalam kepalanya. Telepon genggam ningsih berdering, penelepon itu mengabari ningsih bahwa andri sudah sadar dan terus menerus memanggil nama ningsih. Tanpa banyak bertanya ningsih langsung meluncur ke RS. Ningsih masuk ke ruang itu dengan tergesa-gesa, dan mendekati andri. Belum sempat ningsih mengucapkan salam saat bertemu dengan sepupunya, laki-laki yang terbaring lemah itu, sudah mencecar ningsih dengan pertanyaan yang semakin membingungkan ningsih.“Pu..Putra gimana..dia baik-baik saja kan..” tanya Andri“ap..apa..?”“put..ra dia ada di rumah yang terbakar itu gimana kead..annya?” “tapi..putra..” tanya Ningsih heran“Putra..dia ada disana..menatap q..“putra…dia disana..puut..rraaa…”Belum sempat ningsih menjelaskan pada andri bahwa putra saat itu berada di rumah, suster dan istri andri menyuruhnya keluar. Demi kesehatan pasien, mereka menyuruh ningsih keluar, karena andri sudah mulai histeris, dan terus meneriakkan kata-kata “putra..putra..”Ningsih keluar rumah sakit dengan wajah bingung, jalannya tidak terarah sampai menabrak orang yang mau masuk rumah sakit. Ningsih pulang dengan semua pikiran yang terus berkecamuk. Dalam angkutan umum, ningsih memikirkan semuanya, dan akhirnya ningsih mulai mengkaitkannya dengan semua gambar-gambar putra. Pikiran ningsih mulai membandingkan semua kejadian itu dengan gambar-gambar kematian yang ditemukan nigsih dikamar putra. Gambar-gambar kematian putra ternyata menjadi kenyataan, selama ini ternyata putra menyimpan sesuatu yang tidak pernah diketahui ningsih sebelumnya. Bayangan kematian-kematian itu mulai memenuhi pikiran ningsih. Ningsih membuka pintu rumah dengan kasar.“PUTRA…” teriak NingsihNingsih mencari putra, anak kecil itu biasa duduk di balik sofa tapi kali ini tidak. Ningsih mencari putra di tiap sudut kamarnya. Ningsih panik saat putra tidak ditemukan dimanapun.Ningsih keluar kamar dengan panik, ketika mulai menyerah setelah mengobrak abrik rumah, ningsih menemukan gambar tentang berbagai cara kematian putra, dan itu semakin membuat ningsih tergolek lemas di lantai rumahnya. Ningsih menangis, saat dia menunduk pasrah ningsih melihat sesuatu yang tersembul keluar dari kolong sofa. Sebuah gambar yang lusuh terkena debu, gambar itu berisikan seorang anak yang bergandengan dengan ibunya di padang rumput hijau dengan langit biru tanpa awan. Di tengah-tengah gambar ada sebuah simbol Setelah melihat gambar yang mengharukan, ningsih berlari keluar rumah dan mencari keberadaan putra. Tempat pertama yang dikunjunginya adalah tempatnya bekerja, dia bertanya pada semua karyawan apa mereka melihat putra. Tapi semua orang ditanyainya cuma bisa menggelengkan kepala. Ningsih bertanya pada penjaga tempat itu kalau-kalau putra mampir kesana, karena menurut ningsih cuma tempat ini yang putra tahu. Semua penjaga tempat penitipan anak, juga cuma bisa menggeleng. Ningsih mulai panik dan keluar dari department store tempatnya bekerja. Ningsih berlari melewati tiap sudut jalan yang biasa dilewatinya. Menyusuri jalanan yang mungkin biasa dilalui putra. Pandangannya menyapu tiap gang yang dilewati ningsih, taman dan sebuah sekolah. Namun putra tak kunjung ketemu. Ningsih sampai kembali ke rumahnya, dia sudah mulai putus asa, ningsih duduk di tangga masuk, menunduk dan menangis. Tiba-tiba ningsih mendongakkan kepalanya dan mulai berlari lagi.  Ningsih berlari menuju makam suaminya, dan benar saja dia menemukan putra disana, duduk di sebelah makam suaminya sambil tertunduk, menggambar. Ningsih menghampirinya dan memeluknya erat. Ningsih melihat gambar-gambar yang dibuat putra semuanya gambar kematian putra. Ningsih kaget, dia memeluk putra dan menggendongnya pulang, membiarkan kertas dan pensil warnanya jatuh berserakan di sekitar makam. Salah satu gambar yang berserakan itu berisi seorang anak yang duduk di sebuah ruangan gelap, menunduk sambil memegang erat kedua kakinya. Sebuah gambar yang menunjukkan kesendirian putra.Ningsih kalut, berlari pulang sambil terus menggendong putra. Beberapa kali ningsih hampir tertabrak, karena berlari tanpa melihat keadaan sekitarnya.  Ningsih sampai di rumahnya, menggendong putra sampai di kamar ningsih. Ningsih kemudian menurunkan putra. “putraa..diam disini dulu ya..jangan berbuat apapun. MENGERTI..!!” tegas NingsihPutra tidak mengangguk maupun menggeleng, dia menatap ibunya. Ningsih keluar sebentar, mencari beberapa kayu. Ningsih kembali ke dalam kamar dan mulai memasang beberapa kayu untuk menutupi jendelanya, ningsih memaku kayu-kayu sebagai palang di jendela kamarnya. Hal itu dilakukan ningsih karena menemukan gambar putra yang tengah melompat dari jendela sebuah gedung.ningsih menyingkirkan setiap benda tajam yang ada di kamar itu. Ningsih keluar kamar, menyuruh putra tetap di kamar itu selagi dia mencari bantuan dan mengunci pintunya dari luar. Ningsih membereskan beberapa baju putra dan memasukkannya ke dalam tas besar. Ningsih memasukkan semua yang perlu dia bawa ke dalam tas itu.Ningsih mengambil tas di sofa yang tadi ditaruhnya saat panik mencari putra, kemudian berlari keluar rumah. Saat putra ditinggal ibunya, dia melihat sekeliling kamarnya yang sekarang gelap, menatap kayu-kayu yang dipakukan ningsih di jendela kamar putra. Setelah mata putra mengelilingi seluruh sisi kamar, mata putra terpaku pada cermin di pojok ruangan. Putra menghampirinya, menatapnya lama, menatap sosok putra lain yang tersenyum menyeringai di seberang sana. Ningsih berusaha meminta bantuan tetangganya untuk mencarikannya sebuah taksi. Ningsih tak sabar menunggu taksi itu, salah seorang tetangga yang menyewakan mobil, menawari ningsih dengan mobil sewaannya.  Sosok putra lain di cermin itu mengolok-olok putra.“ibumu sudah tidak mempedulikanmu. Lagi putra..lihat apa yang dia perbuat padamu..dia mengurungmu dan meninggalkanmu..dia meninggalkanmu putra..dia meninggalkanmu” kata wajah lain itu sinisPutra menggeleng dan terus menggeleng sambil menatap sosok di cermin itu. Putra di cermin terus mengolok putra sampai akhirnya putra berteriak.“tidaaaak…..hiks..” teriak Putra sambil terisak“lihat saja apa dia akan kembali..Kau tidak perlu menunggunya..Kamu hanya perlu meninggalkannya. Sekarang!!” desah sosok lain itu“sekarang putra..ikuti apa yang kulakukan”Putra diam, dia hanya menatap bayangan dirinya di cermin yang terus menyeringai.“sekarang putra…”“SEKARANG…” teriaknyaPutra membenturkan kepalanya ke cermin di depannya, tepat saat putra membenturkan kepalanya ningsih masuk ke dalam kamar dan menangkap tubuh lemas putra. Ningsih berteriak minta tolong sambil menangis histeris. Ningsih terus berteriak sambil menatap putra, dan ada satu kata terakhir yang keluar dari mulut putra.“putra nggak mau ibu ninggalin putra” desah NingsihKemudian putra menutup matanya. “putraa..buka mata nak..putraaa…..” teriak Ningsih sambil terisakNingsih memeluk tubuh putra, para tetangga mulai berdatangan saat putra sudah tak bernyawa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s